Genjot Kunjungan Wisatawan, Purbalingga Didorong Perbanyak Event Wisata

PURBALINGGA – Sejalan dengan pembangunan bandara Jenderal Besar (JB) Soedirman yang akan mempermudah akses wisatawan, Pemerintah Kabupaten Purbalingga didorong untuk memperbanyak pelaksanaan event pariwisata. Event wisata ini sudah terbukti mampu menyedot kunjungan wisatawan sebagaimana yang telah dilakukan oleh kabupaten lain di Jateng dan Jatim. Disisi lain, Pemkab melalui Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Dinporapar) harus mulai melakukan ekspansi promosi Bersama keluar kota dengan melibatkan seluruh pelaku usaha jasa pariwisata.

“Event pariwisata jika perlu digelar minimal dua minggu sekali. Dengan cara ini, maka akan banyak wisatawan yang berdatangan ke Purbalingga. Event yang digelar tentunya yang unik, tematis dan tidak ada di kabupaten lain,” kata Eko Suseno Martuti, SE, MM, konsultan manajemen dan Sumber Daya Manusia (SDM) Pariwisata pada acara Focus Group Discussion Pengembangan SDM kepariwisataan bagi pelaku wisata, pengusaha jasa pariwisata dan pengelola destinasi wisata di aula Toyosukha Taman Wisata Purbasari Pancuranmas, Purbalingga, Senin (24/9).
ko menyarankan, sebelum menggelar event, paling tidak Purbalingga lebih dahulu menarik kegiatan di tingkat provinsi untuk digelar di Purbalingga. Misal, setiap kepala OPD (Organisasi Perangkat Daerah) untuk melakukan lobi ke OPD ditingkat provinsi, agar menggelar kegiatannya di Purbalingga. Jika ada 20 kegiatan OPD tingkat provinsi, maka akan memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat. “Misal, jika ada 20 even skala Jateng, dan setiap event dihadiri 1.000 orang, akan butuh penginapan sekitar 500 kamar, juga pendatang butuh makan, butuh oleh-oleh dan lainnya. Ini dampak ekonominya luar biasa,” kata Eko Suseno yang juga dosen Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga (UKSW) ini.

Disisi lain, para pelaku usaha jasa pariwisata juga perlu bersinergi untuk melakukan self force promosi keluar kota sasaran pasaran wisata. Self force ini diikuti para pengelola destinasi wisata, pengelola hotel, pengelola rumah makan dan pelaku desa wisata. “Misal melakukan promosi ke Jakarta, ditampilkan seni budaya asli Purbalingga, tamu disuguhi jajanan khas, dan pengelola daya Tarik wisata melakukan pemasaran dengan biro wisata di kota itu, atau dengan sekolah-sekolah,” kata Eko Suseno.

Eko Suseno juga menyarankan agar Pemkab Purbalingga mencontoh pelaksanaan event wisata seperti di Banyuwangi. Saat ini di Banyuwangi saja sudah ada 78 jenis festival dalam satu tahun, artinya, dalam satu tahun setiap minggu ada agenda event wisata. “Banyuwangi mampu bangkit untuk menjadi kabupaten dengan event terbanyak, bahan beberapa event skalanya digelar internasional,” kata Eko.

Menjawab tantangan itu, Direktur PD Owabong Drs Hartono menyatakan, pihaknya akan menyiapkan self force pemasaran wisata Purbalingga secara sinergi pada Januari mendatang. Sasaran pasar yang massif di Yogyakarta dan Solo. “Kami akan menyiapkan pemasaran secara sinergi ini agar langsung mengena ke pasar,” kata Hartono.

Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Dinporapar) Purbalingga, Ir Prayitno, M.Si mengatakan, target kunjungan wisatawan akan terus digenjot sebagai bagian upaya kebijakan pengembangan pariwisata di Purbalingga. Tahun 2018 ini saja, target kunjungan wisatawan nusantara dipatok 2,53 juta orang. Jumlah ini masih menempati posisi lima besar kunjungan wisatawan di Jateng. Pemkab juga menyiapkan beberapa event wisata baru. “Saat ini setidaknya sudah ada 10 kegiatan festival yang digelar, dan pasca kunjungan ke Banyuwangi, Pemkab menginventarisir ada 31 jenis festival, seperti festival rambut, festival knalpot, festival Klawing, festival kopi dan lainnya. Paling tidak, dalam satu bulan akan digelar minimal satu event wisata,” kata Prayitno. (y)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *