Pagelaran Wayang Kulit dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Purbalingga di Desa Sempor Lor

Wakil Bupati Purbalingga serahkan tokoh wayang kepada Ki dalan Gendroyono (1)

PURBALINGGA, – Seiring berjalannya waktu kebudayaan manusia terus berkembang, budaya asing telah masuk ke Indonesia dan kita berada di era globalisasi, sehingga kerap menimbulkan banyak masalah yang berdampak positif maupun negatif pada masyarakat dan generasi muda.

Salah satu upaya untuk menekan derasnya arus globalisasi dan untuk melestarikan budaya Indonesia adalah dengan pertunjukan yang mampu membuat masyarakat untuk cinta budaya, salah satunya melalui kegiatan budaya berupa wayang kulit.

“Kebudayaan Indonesia sangat beragam, salah satunya pagelaran wayang kulit. Melalui kegiatan budaya tersebut, diharapkan bisa merekatkan serta memupuk hubungan antara masayakat pada umumnya dan generasi pada khususnya untuk mencintai budaya nenek moyang yang adiluhung sebagai pemersatu bangsa,”tutur Imam Subijakto S Sos M Si Sekretaris Daerah Kabupaten Purbalingga saat memberikan sambutan pada Pagelaran Wayang Kulit untuk memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Purbalingga yang ke- 183 di Balai Desa Sempor Lor Kecamatan Kaligondang Kabupaten Purbalingga kemarin  Sabtu (14/12).

Imam juga mengharapkan agar masyarakat khususnya para generasi muda untuk mencintai budaya jawa yang adiluhung dengan sungguh-sungguh dan tidak setengah-setengah. Dengan demikian keberadaan budaya Indonesia akan  tetap terjaga sampai anak cucu dan para generasi penerus bangsa.

Kegiatan budaya selain sebagai pemersatu antar masyarakat ataupun generasi muda juga mampu menyaring budaya-budaya barat yang kerap merusak moral para pemuda untuk berbuat amoral.

 

Jadikan tontonan sebagai tuntunan

 

Wakil Bupati Purbalingga Drs Sukento Ridho Marhaendrianto MM meminta, agar tontonan budaya jangan hanya menjadi ajang tontonan yang tidak mendidik dan seremonial pada saat-saat tertentu saja.

“Melalui pagelaran wayang kulit ini masyarakat dan generasi muda dituntut untuk mencintai dan menghayati arti serta falsafah dari wayang kulit. Karena wayang kulit dalam setiap pertunjukan juga membawa pesan-pesan yang mengajak masyarakat untuk berbuat kebaikan,”pintanya.

Oleh sebab itu,  pertunjukan semacam ini bisa dijadikan tuntunan atau teladan dari sisi baiknya serta untuk melestarikan kebudayaan nenek moyang yang semakin lama semakin ditinggalkan oleh masyarakat.

“Jadikanlan tontonan semacam ini sebagai tuntunan atau teladan untuk berbuat baik, karena melalui pertunjukan wayang tersebut dicontohkan pula sebab akibat dari perbuatan baik maupun buruk,”katanya.

Kepala Bagian Kesra Setda Purbalingga Drs Nurhadi mengatakan, pagelaran wayang kulit kali ini untuk memeriahkan hari jadi Kabupaten Purbalingga yang ke – 183 juga merupakan gelaran budaya untuk lebih memberikan edukasi kepada masyarakat dalam melestarikan budaya.

Selain itu, sebelum pertunjukan wayang kulit dimulai Wakil Bupati Purbalingga menyerahkan santunan sosial kematian bagi dua warga Desa Sempor Lor yang tertimpa musibah.

Pagelaran wayang kulit semalam suntuk dibawakan oleh Ki dalang Gendroyono dengan lakon Bima Sakti juga disiarkan oleh radio milik Pemkab Purbalingga.

Turut menghadiri acara tersebut antara lain Jajaran Pejabat Pemkab Purbalingga, unsur Muspika Kecamatan Kaligondang, dan seluruh Kades Se-Kecamatan Kaligondang. (Key)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *